Selamat datang di era digital, di mana jempol seringkali lebih sibuk daripada lisan, dan layar ponsel lebih sering dipandang daripada wajah kawan sendiri. Kalau kamu sering mampir ke tongkrongan, kafe, atau bahkan teras masjid, pasti pemandangan orang duduk berkelompok tapi hening itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Eh, nggak hening juga sih, biasanya diselingi teriakan khas: "Push!", "Mundur dulu!", atau "Mana retri lo?!". Itulah dunia Mabar. Namun di balik hiruk-pikuk dunia game itu, ada satu istilah yang mulai sayup-sayup terdengar lagi sebagai penyeimbang: Ngabar. Yuk, kita nyaprak lebih dalam soal fenomena ini di nyaprak.my.id.
Apa Itu Mabar?
Secara harfiah, Mabar adalah akronim dari "Main Bareng". Istilah ini meledak seiring dengan populernya game multiplayer berbasis mobile seperti Mobile Legends, PUBG Mobile, hingga Free Fire. Mabar bukan sekadar bermain game sendirian di pojok kamar dengan lampu redup. Mabar adalah aktivitas sosial di mana orang-orang berkumpul, baik secara fisik maupun virtual, untuk mencapai satu tujuan: kemenangan atau "Victory".
Esensi mabar sebenarnya bukan cuma soal menang atau kalah. Di dalam mabar, ada komunikasi intens, ada letupan emosi, dan ada solidaritas yang terbangun secara instan. Meskipun seringkali bahasa yang keluar di sela-sela permainan adalah bahasa "gaul" yang agak kasar, bagi para pelakunya, itu adalah tanda keakraban. Mabar telah menjadi cara baru bagi generasi Z dan Alpha untuk berinteraksi, melepas penat, dan membangun komunitas tanpa batas ruang.
Mabar Menjadi Tradisi Setiap Tongkrongan
Zaman berganti, begitu pula gaya nongkrongnya. Kalau dulu tongkrongan identik dengan main gitar sambil nyanyi lagu lawas atau sekadar diskusi politik warung kopi, sekarang mabar sudah menjadi "menu wajib". Belum sah rasanya disebut nongkrong kalau belum login bareng. Fenomena ini mengubah lanskap sosial kita secara drastis. Mabar menjadi perekat hubungan karena ada koordinasi tim yang dibutuhkan.
Namun, hal ini juga menciptakan paradoks yang menarik: "Mendekatkan yang jauh, tapi terkadang menjauhkan yang dekat." Kita sering melihat satu meja kafe penuh dengan anak muda, tapi semuanya menunduk menatap layar masing-masing tanpa ada kontak mata. Interaksi mereka berpindah ke dunia virtual, padahal raganya duduk berdampingan. Inilah tradisi unik sekaligus menantang di era modern ini.
Coba jujur, pernah nggak kalian lagi nongkrong bareng temen lama yang sudah setahun nggak ketemu, tapi malah sibuk mabar berjam-jam sampai lupa nanya kabar masing-masing?
Kalangan Anak-anak Sampai Orang Tua
Demam mabar ini tidak mengenal kasta usia. Dari bocah SD yang masih bau kencur hingga bapak-bapak yang sudah beruban, semuanya punya game favorit masing-masing. Bagi anak-anak, mabar adalah ruang bermain baru pengganti permainan tradisional seperti petak umpet atau kelereng yang mulai hilang di telan zaman. Sementara bagi orang dewasa, mabar seringkali menjadi sarana stress relief yang murah meriah dari tekanan pekerjaan kantor yang membosankan.
Inklusivitas umur ini membawa risiko tersendiri. Anak-anak yang terpapar mabar berlebihan berisiko kehilangan waktu belajar dan mengalami gangguan konsentrasi. Sedangkan bagi orang dewasa, jika tidak bisa membatasi diri, mabar bisa mengganggu waktu berkualitas bersama keluarga atau bahkan mengabaikan tugas-tugas rumah tangga. Mabar memang asyik, tapi jika dilakukan tanpa kontrol, ia bisa menjadi candu yang berbahaya.
Apa Itu Ngabar?
Di tengah keriuhan suara tembakan dan ledakan dari speaker ponsel, muncul sebuah istilah tandingan yang jauh lebih menyejukkan: Ngabar alias "Ngaji Bareng". Jika mabar berfokus pada ketangkasan jari dan strategi kemenangan di dunia virtual, ngabar justru berfokus pada ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan bekal untuk kehidupan yang lebih kekal.
Ngabar bisa bermacam-macam bentuknya. Mulai dari tadarus Al-Qur’an bersama teman seangkatan di masjid, menghadiri kajian mingguan, hingga belajar ilmu agama secara berkelompok melalui platform digital. Ngabar adalah upaya untuk menjaga spiritualitas kita agar tetap waras di tengah gempuran dunia digital yang serba cepat, kompetitif, dan seringkali membuat kita lupa akan hakikat diri sebagai hamba.
Lebih Memilih Mabar Daripada Ngabar
Kita harus jujur pada realita. Jika ada dua undangan masuk ke grup WhatsApp secara bersamaan: satu ajakan mabar jam 8 malam dan satu lagi ajakan ngabar jam 8 malam, mana yang lebih cepat mendapatkan respons "Gas!"? Biasanya, mabar selalu jadi pemenangnya. Kenapa? Karena mabar memberikan kesenangan instan melalui pelepasan hormon dopamin saat kita berhasil mengalahkan lawan.
Sebaliknya, ngabar membutuhkan usaha yang jauh lebih besar untuk melawan rasa malas. Ngabar sering dianggap sebagai aktivitas yang "berat" atau "kurang gaul" oleh sebagian anak muda. Akibatnya, masjid-masjid di waktu sore atau malam seringkali hanya diisi oleh para lansia, sementara anak mudanya lebih asyik bersembunyi di balik semak-semak Land of Dawn sambil memegang ponsel mereka erat-erat.
Ironi di Balik Sarung: Saat Ngabar Diselipi Mabar
Fenomena yang lebih unik lagi adalah ketika kedua aktivitas ini dicampuradukkan secara paksa. Ini adalah level lanjut dari ketergantungan pada game online. Pernahkah kamu melihat di pojok serambi masjid atau di tengah jeda istirahat sebuah kajian, ada sekelompok anak muda yang masih mengenakan sarung dan peci, tapi matanya terpaku ke layar HP dengan posisi horizontal?
Bahkan di saat ngabar pun, terkadang masih diselipkan mabar.
Maksud hati datang ke majelis ilmu untuk menunaikan kewajiban spiritual, tapi magnet dari game online rupanya jauh lebih kuat. Begitu ada kesempatan jeda sedikit saja, jempol langsung otomatis membuka aplikasi game untuk sekadar mengambil daily reward atau menyelesaikan satu pertandingan singkat. Alhasil, khusyuknya ngaji jadi hilang, dan ilmu yang disampaikan guru cuma lewat begitu saja tanpa membekas di hati.
Hayo ngaku, siapa yang pas lagi dengerin ceramah di majelis, HP-nya masih aktif bunyi notifikasi 'Enemy has been slain' atau malah asyik nyelesaiin misi harian?
Himbauan Orang Tua
Di sinilah peran orang tua menjadi garda terdepan. Orang tua tidak perlu menjadi sosok yang "anti-teknologi" atau melarang total penggunaan ponsel, namun harus menjadi pengawas yang bijak. Himbauan orang tua bukan berarti ingin merenggut kebahagiaan anak, melainkan untuk mengingatkan tentang batasan dan prioritas hidup. Kecanduan game online dapat menyebabkan gangguan mental seperti stres, depresi, hingga kehilangan fungsi sosial.
Boleh Mabar Asal Jangan Tinggalkan Ngabar
Kunci dari problematika ini sebenarnya bukan pada "larangan", melainkan pada "keseimbangan". Kita hidup di zaman yang serba digital, sangat wajar jika kita menyukai game. Mabar itu boleh-boleh saja. Ia bisa melatih kerja sama tim, mengasah kecepatan berpikir, dan memperluas jaringan pertemanan. Namun, jangan sampai kesenangan itu membuat kita meninggalkan kewajiban yang lebih fundamental: Ngabar.
Seorang gamer sejati adalah dia yang bisa mengatur waktunya dengan presisi. Dia tahu kapan harus push rank secara barbar, dan kapan harus merapat ke barisan shaf untuk mengaji. Jangan sampai jempol kita sangat lincah memencet tombol skill di layar, tapi kaku saat memegang kitab suci atau enggan menengadah saat berdoa. Keseimbangan inilah yang akan membuat hidup kita tidak hanya menang di dunia virtual, tapi juga menang dalam kualitas karakter dan spiritualitas di dunia nyata.
Apa satu hal yang paling susah kalian tinggalin pas lagi asyik-asyiknya 'war': panggilan orang tua, suara adzan, atau rasa ngantuk yang sudah berat?
| Aspek | Mabar (Main Bareng) | Ngabar (Ngaji Bareng) |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Ketangkasan jari & strategi. | Ketenangan hati & ilmu. |
| Tujuan | Kemenangan virtual (Win). | Keberkahan & bekal akhirat. |
| Efek Samping | Dopamin naik, risiko toxic. | Ketenangan batin & adab. |
| Waktu | Bisa kapan saja (unlimited). | Terjadwal (kajian/tadarus). |
| Interaksi | Kompak di dunia virtual. | Kompak silaturahmi nyata. |
Kesimpulan
Mabar dan Ngabar adalah dua sisi dari koin kehidupan anak muda masa kini. Mabar adalah sarana hiburan untuk melepas penat, sementara Ngabar adalah kebutuhan ruhani untuk mengisi energi jiwa. Keduanya bisa berjalan beriringan asalkan kita memiliki kedewasaan untuk membagi waktu dengan bijak. Jangan biarkan hiburan sesaat membutakan kita dari kewajiban jangka panjang. Jadi, gimana Lur? Malam ini jadwalnya mabar dulu, atau ngabar dulu?
Mari nyaprak hal-hal penting di sekitar kita dengan cara yang asyik!
