Dunia ini penuh dengan orang-orang yang gemar bersuara. Di kafe, di kantor, hingga di meja makan, obrolan selalu mengalir deras. Namun, di antara keriuhan itu, selalu ada satu atau dua orang yang lebih banyak diam. Mereka yang hanya manggut-manggut, melempar senyum tipis, atau sekadar menjadi penyimak yang setia. Banyak yang menganggap mereka ini anteng, nggak punya ide, atau malah dianggap kuper. Padahal, anggapan itu sering kali meleset jauh.
Ada sebuah fenomena unik: justru mereka yang paling pelit bicara di dunia nyata, sering kali menjadi "monster" yang paling liar saat sudah berhadapan dengan papan ketik. Di balik tulisan yang panjang, mendalam, dan nylekit, biasanya ada lisan seorang pendiam yang sedang meledakkan seluruh isi kepalanya. Menulis bukan sekadar hobi bagi mereka, melainkan sebuah cara untuk bernapas di tengah sesaknya keharusan untuk selalu bersuara secara lisan.
Tidak Pandai Memulai Obrolan: Filter yang Terlalu Tebal
Bagi seorang pendiam, memulai sebuah obrolan bukan sekadar membuka mulut dan mengeluarkan suara. Ada proses rumit di dalam sana. Angel tenan rasanya kalau harus basa-basi menanyakan kabar atau membicarakan cuaca yang sebenarnya sudah jelas-jelas panas. Memulai percakapan dengan orang baru atau bahkan di tengah lingkaran pertemanan lama sering kali terasa seperti mendaki gunung tanpa persiapan. Ada beban mental yang muncul secara otomatis.
Ada semacam filter otomatis yang bekerja terlalu ketat. Sebelum satu kata keluar, otak sudah bertanya: "Iki penting ra ya?", "Nanti kalau dia nggak nyambung gimana?", atau "Bahasaku ketinggian nggak ya?". Pertimbangan yang bertumpuk-tumpuk ini sering kali membuat kata-kata macet di tenggorokan. Penulis yang pendiam sering kali terlalu memikirkan dampak dari ucapannya, sehingga alih-alih bicara sembarangan, mereka memilih untuk menyimpan semuanya sendiri. Akhirnya, daripada memaksakan diri dan malah dibilang wagu atau bikin suasana jadi garing, diam menjadi pilihan yang paling rasional. Namun, jangan salah, diamnya bukan berarti kosong melompong. Di balik pintu mulut yang tertutup rapat, ada mesin pemikir yang sedang bekerja dengan putaran tinggi.
Lebih Banyak Menjadi Pendengar: Mengumpulkan Bahan Bakar
Karena jarang mengambil jatah bicara, si pendiam ini secara otomatis menjadi pengamat yang sangat jeli. Dalam istilah Jawa, mereka ini lebih suka nyemak. Saat orang lain asyik mendominasi pembicaraan dengan berbagai cerita hebatnya, si pendiam sedang asyik "belanja" informasi dan mengamati pola-pola yang luput dari pandangan mata biasa. Menjadi pendengar adalah sebuah privilese untuk memahami dunia secara lebih utuh tanpa terdistraksi oleh suara sendiri.
Mereka memperhatikan nada bicara lawan bicara, menangkap keresahan yang tersirat dari kerutan dahi, hingga membedah pola pikir orang-orang di sekitarnya. Semua hasil observasi ini tidak dibuang begitu saja. Semuanya disimpan rapi dalam "gudang" memori yang sangat luas. Inilah yang menjadi bahan bakar utama ketika mereka akhirnya duduk di depan layar komputer. Tanpa banyak bicara, mereka justru punya stok ide yang melimpah karena waktu yang seharusnya dipakai untuk bicara, digunakan sepenuhnya untuk menyerap keadaan. Mereka adalah kolektor cerita yang ulung, pengumpul momen yang teliti, dan penyaring realita yang tajam.
Lisan yang Kaku vs Pikiran yang Bersimulasi secara Liar
Inilah titik puncak dari paradoks seorang pendiam. Ketika sedang berada di tengah kerumunan, lisannya mungkin terasa kaku. Ilat koyo kecetit (lidah seperti terkilir) kalau harus menanggapi debat kusir atau candaan receh yang lewat begitu saja. Respon mereka mungkin lambat, atau hanya berupa satu dua patah kata yang terdengar sangat formal. Secara fisik, mereka tampak tenang, bahkan mungkin terlihat melamun atau kehilangan fokus.
Namun, kalau kita bisa mengintip apa yang terjadi di dalam kepalanya, suasananya sangat kontras. Di dalam sana, pikirannya sedang nyaprak tanpa henti. Otaknya sedang bersimulasi secara liar. Mereka bisa sedang membedah sebuah kebijakan publik, merangkai teori konspirasi tentang mengapa tukang bakso di depan rumah selalu lewat di jam yang sama, hingga menyusun argumen filsafat yang sangat rumit tentang eksistensi manusia.
Simulasi ini berjalan sangat cepat dan liar, melampaui batas-batas logika lisan yang linear. Satu ide melahirkan ide lain, satu keresahan memicu pertanyaan baru yang lebih dalam. Jadi, meskipun di luar terlihat seperti air tenang yang tak bergerak, di dalam sana ada badai gagasan yang sedang berkecamuk hebat. Mereka tidak butuh lawan bicara untuk berdiskusi, karena pikiran mereka sudah menjadi lawan bicara yang paling tangguh dan kritis. Keheningan mereka adalah ruang laboratorium bagi eksperimen-eksperimen pemikiran yang tak terbatas.
Menulis: Katarsis dan Cara "Balas Dendam" yang Elegan
Segala kegaduhan, simulasi, dan hasil observasi yang menumpuk di kepala itu lama-kelamaan akan menciptakan tekanan psikologis yang besar. Jika tidak dikeluarkan, kepala rasanya mau pecah. Namun, mengeluarkan lewat lisan tetap saja terasa sulit dan tidak pernah memuaskan. Bicara itu terbatas oleh waktu, lawan bicara yang mungkin tidak sabar, dan suasana yang tidak selalu mendukung. Bicara sering kali membuat pesan menjadi terdistorsi atau tidak lengkap.
Maka, menulis menjadi jalan satu-satunya. Menulis adalah cara mereka "balas dendam" atas segala kekakuan yang dialami di dunia nyata. Di depan layar atau di atas kertas, semua hambatan itu hilang seketika. Tidak ada interupsi, tidak ada tatapan mata yang menghakimi, dan tidak ada keharusan untuk merespon dengan cepat. Menulis memberikan kemewahan waktu untuk memilih kata yang paling tepat, menyusun struktur argumen yang paling kokoh, dan menghapus apa yang dirasa kurang pas.
Di sinilah keliaran pikiran itu benar-benar tertumpah tanpa ada yang menghalangi. Tulisan panjang adalah bukti otentik bahwa mereka punya banyak hal untuk dikatakan, hanya saja medianya bukan lewat getaran pita suara. Lewat tulisan, mereka bisa menata logika dengan sangat rapi, memilih diksi yang paling mak dheg, dan menyampaikan pesan tanpa ada satu pun bagian yang terpotong. Tulisan panjang adalah sebuah teriakan yang sangat keras dalam keheningan, sebuah ledakan emosi yang dikemas dalam barisan paragraf yang estetik.
Penutup: Merayakan Suara dalam Sunyi
Jadi, jangan pernah meremehkan orang yang hanya diam di pojokan saat diskusi berlangsung. Jangan menganggap mereka tidak paham atau tidak peduli. Bisa jadi, saat itu dia sedang menyusun sebuah naskah hebat atau artikel tajam di kepalanya. Blog seperti nyaprak.my.id ini menjadi bukti nyata bahwa "diam di lisan" bukan berarti mati gaya. Itu adalah strategi untuk menabung energi. Energi yang besar itu nantinya akan diubah menjadi karya yang bisa dibaca dan dinikmati oleh banyak orang.
Bagi si pendiam, tulisan adalah jembatan untuk terhubung dengan dunia tanpa harus kehilangan kenyamanan dalam kesunyian yang mereka cintai. Lewat tulisan, mereka bisa menjadi siapa saja, bisa bicara apa saja, dan bisa menyentuh hati siapa saja tanpa perlu merasa canggung secara fisik. Tulisan adalah warisan pemikiran yang tetap ada bahkan ketika suaranya sendiri sudah hilang ditelan bisingnya dunia.
Pada akhirnya, tulisan panjang bukan sekadar tumpukan kata yang membosankan. Itu adalah sebuah manifesto bahwa setiap orang punya cara bersuara yang berbeda dan unik. Ada yang lewat teriak lantang, ada yang lewat tindakan nyata, dan ada yang lewat tulisan—sebuah cara bicara yang abadi, meskipun sang penulisnya tetap setia dalam diamnya. Sebab, apa yang tidak mampu diucapkan oleh lidah yang kaku, biarlah jari-jari yang lincah yang menyelesaikannya dengan penuh keberanian. Sing penting tetep nyaprak, mergo tulisan kuwi donga sing ora ono swarane.
Itulah Aku.
