Kata Orang Tua, Aja Maca Bari Ngedeng Kone Lamur

Benarkah baca sambil tiduran bikin mata rabun? Jere wong tua "aja maca bari ngedeng kone lamur" dari kearifan lokal wong bengen dan fakta medis
Jere Wong Bengen
Halo para sedulur pembaca setia Nyaprak! Pernah nggak sih, lagi asyik-asyiknya baca buku, baca komik, atau yang paling sering sekarang: asyik scrolling media sosial sambil rebahan santai, tiba-tiba ada suara melengking dari arah dapur atau ruang tamu?
"Heh, aja maca bari ngedeng, kone matane lamur!" (Jangan baca sambil tiduran, nanti matanya rabun!).

Suara emak atau bapak itu rasanya sudah jadi "alarm" otomatis sejak kita kecil. Nasihat ini sudah turun-temurun jadi warisan lisan orang tua kita. Kadang kita yang masih muda cuma bisa ngedumel dalam hati, "Ah, emak mah kolot banget, apa hubungannya tidur sama mata?" Tapi pertanyaannya, apakah itu cuma ancaman kosong supaya kita kelihatan rajin, atau memang ada rahasia besar di baliknya? Mari kita bedah lebih dalam biar nggak gagal paham, Lur!

Mitos atau Fakta? Mencari Benang Merah Nasihat Kuno

Banyak anak muda zaman sekarang, terutama kaum milenial dan Gen Z, yang menganggap omongan wong bengen (orang dulu) itu cuma mitos atau dongeng belaka. Kita sering mikir kalau teknologi sudah maju, jadi nasihat lama sudah nggak relevan lagi.

Tapi faktanya, istilah "lamur"—yang artinya pandangan kabur, bayang-bayang, atau penurunan tajam penglihatan—akibat baca sambil tiduran itu bukan sekadar gertakan sambal. Walaupun efeknya nggak instan (nggak langsung hari itu juga mata jadi rusak), kebiasaan ini ibarat mencicil kerusakan mata secara perlahan. Jadi, nasihat ini adalah FAKTA medis yang dibungkus dengan bahasa kearifan lokal yang sederhana supaya mudah diingat.

Pandangan Ilmu Kedokteran: Kenapa Mata Bisa Protes?

Nah, buat kamu yang butuh penjelasan ilmiah biar makin percaya, secara medis ada beberapa alasan kenapa posisi ngedeng (tiduran) itu musuh besar bagi mata kita:

  • Beban Otot Mata (Akomodasi Berlebih): Saat kita dalam posisi duduk tegak, jarak antara mata dan bacaan cenderung stabil. Tapi kalau sambil tiduran, jarak itu berubah-ubah. Mata kita dipaksa melakukan "akomodasi" atau kerja ekstra keras untuk menyesuaikan fokus. Bayangkan kalau otot tanganmu disuruh angkat beban terus-menerus tanpa henti, pasti pegal kan? Begitu juga dengan otot mata.
  • Sudut Pandang yang "Maksa": Mata manusia itu didesain secara alami untuk melihat lurus ke depan atau sedikit ke bawah saat posisi tubuh tegak. Ketika kita membaca sambil berbaring, mata terpaksa melirik ke arah yang tidak alami dalam waktu lama. Ini menyebabkan kelelahan mata akut atau asthenopia. Gejalanya? Mata terasa perih, merah, bahkan bisa bikin pusing tujuh keliling.
  • Masalah Jarak yang Terlalu Dekat: Secara tidak sadar, orang yang membaca sambil rebahan cenderung mendekatkan buku atau HP-nya ke arah wajah. Padahal, jarak ideal itu minimal 30 cm. Kalau keseringan terlalu dekat, risiko mata minus (myopia) atau silinder (astigmatisme) bakal naik berkali-kali lipat.
  • Minim Cahaya dan Bayangan: Ini yang paling sering kejadian. Saat kita rebahan, seringkali posisi kepala atau tubuh kita justru menutupi arah datangnya cahaya lampu. Membaca di bawah bayang-bayang atau di tempat redup bikin pupil mata harus melebar dan bekerja dua kali lipat lebih capek.

Nasihat Wong Tua: Lebih dari Sekadar Kesehatan Mata

Kalau kita selami lebih dalam, nasihat wong bengen itu sebenarnya punya makna filosofis yang sangat luas. Orang tua dulu memang mungkin bukan lulusan fakultas kedokteran, tapi mereka punya "ilmu titen" atau ilmu pengamatan yang tajam.

Bagi orang tua, membaca itu adalah kegiatan yang mulia karena tujuannya mencari ilmu atau memahami sesuatu. Melakukan kegiatan mulia sambil ngedeng dianggap kurang sopan atau ora ilok. Ada nilai adab dan disiplin yang ingin diajarkan. Membaca sambil duduk tegak mencerminkan kesiapan mental, sedangkan membaca sambil tiduran itu lebih dekat dengan sifat aras-arasen (malas-malasan).

Dulu vs Sekarang: Dari Buku Fisik ke Radiasi Layar

Zaman dulu, orang tua kita cuma khawatir soal buku cetak atau koran. Masalahnya "hanya" seputar jarak pandang dan cahaya. Tapi sekarang, tantangannya jauh lebih berat karena hampir semua orang membaca lewat layar smartphone atau tablet. Perbedaannya sangat kontras, Lur. Layar gadget itu memancarkan blue light atau cahaya biru yang punya frekuensi tinggi.

Kalau kita baca buku sambil tiduran, mata cuma capek karena otot. Tapi kalau baca di HP sambil tiduran, apalagi di ruangan gelap, mata kita kena serangan ganda: otot mata capek plus retina mata terpapar radiasi cahaya biru secara langsung. Ini yang bikin mata merah, kering, dan lama-lama bikin penglihatan jadi berbayang. Istilah "lamur" yang dibilang wong bengen jadi makin relevan dan bahkan lebih berbahaya di era digital ini.

Psikologi di Balik "Ngedeng": Antara Malas dan Fokus

Ada alasan psikologis kenapa membaca sambil duduk itu lebih baik daripada sambil ngedeng atau rebahan. Ketika posisi tubuh kita tegak, otak menerima sinyal bahwa kita sedang dalam mode "siaga" atau "belajar". Fokus kita jadi lebih tajam dan informasi yang dibaca lebih mudah diserap. Sebaliknya, saat kita membaca sambil tiduran, tubuh melepaskan hormon yang memicu rasa rileks dan kantuk.

Akibatnya, baru baca dua paragraf, mata sudah mau merem. Bukannya dapat ilmu, malah bukunya jatuh kena muka atau HP-nya mendarat di hidung. Inilah kenapa orang tua kita sering bilang jangan manja. Membaca dengan posisi yang benar bukan cuma soal kesehatan fisik, tapi soal kualitas cara kita berpikir dan menghargai waktu belajar kita sendiri.

Tips Memilih Lampu Baca yang Pas Buat Anak Cilempung

Banyak yang nanya, "Lur, kalau sudah nggak tiduran tapi lampunya masih kuning redup gimana?" Nah, ini juga poin penting. Pilihlah lampu yang punya karakter Cool White atau yang mendekati cahaya matahari. Jangan gunakan lampu yang terlalu kuning karena bikin mata cepat ngantuk, tapi jangan juga yang terlalu biru terang yang menyilaukan.

Usahakan posisi lampu ada di atas kepala atau di samping, jangan tepat di depan mata. Tujuannya supaya cahaya jatuh langsung ke permukaan buku atau gadget, bukan memantul ke arah pupil kita. Dengan pencahayaan yang pas dan posisi duduk yang nyaman, niscaya penglihatan kita bakal awet sampai tua nanti.

Saran Sing Inyong (Admin Nyaprak): Biar Mata Tetap "Joss"

Supaya mata kamu tetap cling sampai tua, coba lakukan tips sederhana ini, Lur:

  • Gunakan Rumus 20-20-20: Setiap 20 menit membaca atau main HP, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat benda yang jaraknya sekitar 6 meter (20 kaki). Ini fungsinya untuk "me-reset" otot mata biar rileks lagi.
  • Jangan Pelit Lampu: Pastikan lampu kamar kamu cukup terang kalau mau membaca. Cahaya yang cukup bikin mata nggak gampang lelah.
  • Lungguh sing Jejeg (Duduk Tegak): Usahakan jarak mata dengan buku itu sekitar 30-40 cm. Nyaman boleh, tapi jangan sampai merusak mata.

Jere Wong Cilempung: Kearifan Lokal yang Blak-blakan

Nah, khusus di daerah Cilempung sini, istilah ini masih terasa banget "saktinya". Orang Cilempung itu terkenal blak-blakan. Kalau kata orang tua di sini, "Maca bari ngedeng kuwi dudu mung nggawe lamur, tapi nggawe uteke melu turu! Engko dadi bocah sing ora mudheng-mudheng!" (Baca sambil tiduran itu nggak cuma bikin rabun, tapi bikin otaknya ikut tidur!). Alias, ilmunya nggak bakal masuk, yang ada malah bablas mimpi indah.

Budaya saling mengingatkan antar tetangga di Cilempung juga masih kental banget. Jadi jangan kaget kalau ada anak muda baca sambil tiduran di teras rumah, orang yang lewat pun bakal ikut negur. Itu tandanya orang Cilempung masih peduli sama kesehatan generasi penerusnya agar tetap punya mata yang tajam dan pikiran yang cemerlang.

Kesimpulan: Hormati Nasihat, Jaga Penglihatan

Ternyata, kalimat sederhana "Aja maca bari ngedeng kone lamur" itu punya bobot yang sangat berat. Itu adalah gabungan antara ilmu kesehatan, adab kesopanan, dan kasih sayang yang tulus dari orang tua kita. Dunia ini terlalu indah untuk dilihat dengan pandangan yang kabur atau tertutup kacamata tebal gara-gara kebiasaan sepele yang salah.

Jadi, mulai sekarang, yuk kita coba hargai nasihat wong bengen. Kalau mau baca atau main HP, ambil posisi duduk yang enak, cari tempat yang terang, dan sayangi matamu. Karena kalau mata sudah lamur, yang rugi bukan orang tua kita, tapi diri kita sendiri. Ingat Lur, mencegah itu selalu lebih baik (dan lebih murah) daripada mengobati. Jadi, masih mau nekat baca sambil tiduran? Pikir-pikir lagi ya, Lur!

About the author

Umar Abdillah
Diam di Lisan, Liar di Tulisan

Posting Komentar